Kelompok Tani Mandiri Sukoharjo Jadi Percontohan Tani Modern

Yogyakarta - Gabungan Kelompok Tani Mandiri yang terdiri dari Kelompok Tani Ngudi Rahayu, Ngudi Rejeki, Asri Rata dan Ngudi Mulyo berhasil menerapkan sistem pertanian modern. Penggarapan lahan pertanian tidak lagi  menggunakan alat manual, tetapi sudah menggunakan mesin pertanian.

“Selama  ini, kita mengalami kesulitan mencari tenaga kerja, khususnya pada musim tanam. Sebagian besar tenaga kerja tanam di Desa Dalangan ini dari luar desa. Bahkan untuk bisa tanam harus antri mendapatkan tenaga kerja,” kata Manajer Usaha Pelayanan Jasa Alsinta (Alat Mesin Pertanian) (UPJA) Bagyo Mulyo, H Karjono kepada wartawan di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (4/8/2015).

Mesin pertanian, jelas Karjono, digunakan untuk mempersiapkan lahan tanam, menanam padi, dan memanen padi. Saat ini, Gapoktan Tani Mandiri memiliki empat traktor roda empat, dua traktor roda dua, tujuh unit mesin tanam atau rice transplanter,  771 unit tray atau kotak tanam, dan  satu mesin panen atau combine harvester.

Berdasarkan perhitungan ekonomis, kata Karjono, penggunaan mesin pertanian memiliki perbedaan yang cukup signifikan dibandingan dengan manual. Pertama, dalam hal tanam. Biaya tanam menggunakan tenaga kerja untuk satu hektarenya membutuhkan sekitar 15 orang dengan biaya Rp 3 juta. Sedangkan biaya tanam menggunakan mesin tanam atau rice transplanter biaya per hektare sebesar Rp 1,75 juta. “Jadi ada selisih Rp 1,25 juta atau dengan kata lain menggunakan mesin lebih irit,” kata Karjono.

Kedua, kebutuhan benih. Menanam padi dengan tenaga kerja manusia setiap hektarenya membutuhkan 25 kilogram. Sedangkan menggunakan mesin tanam hanya membutuhkan bibit sebanyak 15 kilogram. Jadi ada efisiensi biaya untuk pengadaan bibit setiap hektarenya sebesar Rp 700 ribu. Keuntungan lain menanam menggunakan mesin tanam, bibit padi ditanam pada usia 14 hari dari persemaian. Sehingga anakan batang padi bisa lebih banyak dan produksinya pun jauh lebih banyak. Pembibitannya tidak dilakukan dengan menyebar benih di sawah, tetapi dilakukan di rumah-rumah petani.

Bila tanam manual, bibit padi biasanya berusia 36 hari, sehingga ketika ditanam anak batang padinya tidak sebanyak pada usia 14 hari. Ini berpengaruh terhadap produksi padi.

“Pembibitan ini juga menjadi usaha tersendiri bagi kelompok tani dan menghasilkan keuntungan yang tidak kecil,” katanya.

Ketiga, saat panen. Jika menggunakan manual membutuhkan biaya panen sebesar Rp 2,5 juta per hektarenya. Sedangkan menggunakan mesin panen biayanya hanya  sebesar Rp 2 juta. Sehingga ada efisiensi sebesar Rp 500 ribu.

Jika dihitung secara total penghasilan Gapoktan Tani Mandiri untuk 100 hektare mencapai Rp 520,96 juta. Ditambah penyewaan mesin pertanian sebesar Rp 10 juta dari traktor, rice transplanter, dan combine harvester.

Untuk mendukung kesuksesan pertanian modern, Gapoktan Tani mandiri jug telah melakukan deversifikasi usaha. Di antaranya, membuat pupuk organik yang bahan bakunya diambil ternaknya sendiri. Saat ini, Gapoktan memiliki sapi sebanyak 20 ekor.

Selain itu, juga didirikan unit perbengkelan mesin pertanian. Sehingga ketika terjadi kerusakan mesin, para petani bisa memperbaiki sendiri.

Melihat keberhasilan Gapoktan Tani Mandiri, Sumardjo Gatot Irianto, Direktur Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian mengatakan sangat bangga terhadap keberhasilan petani Dalangan. Bahkan keberhasilan ini akan dijadikan model pertanian modern di Merauke, Papua dan daerah Indonesia lainnya.

Gatot mengharapkan agar untuk meningkatkan pendapatan Gapoktan, perlu dilakukan deversifikasi usaha yaitu mendirikan warung kopi atau teh, dan makan  di pinggir sawah.

Hal ini untuk mengantisipasi banyaknya tamu yang melakukan studi banding ke Desa Dalangan. "Peserta studi banding merupakan pangsa pasar untuk menjual makanan dan minuman," kata Gatot.

Gatot menceritakan warga Desa Dalangan sempat meragukan keberhasilan sistem pertanian modern ini. Bahkan Gatot akan memindahkan ke desa lain, jika warga Desa Dalangan tidak sanggup melaksanakan.

Tetapi Gapoktan Tani Mandiri menyanggupi untuk menerima uji coba sistem pertanian modern. Namun Gatot menilai stimulus ini dinilainya sudah cukup sehingga Gapoktan sendiri diminta untuk berusaha sendiri bila masih ada yang kurang. "Saya meminta Gapoktan Tani Mandiri jangan menjadi peminta-minta terus. Tetapi dengan modal kemampuan yang sudah ada silakan usaha sendiri untuk menutup kekurangan," kata Gatot. N

SWI DIY Siap Menerima Aduan Masyarakat

SWI DIY Siap Menerima Aduan Masyarakat

23 Maret 2017

Fauzi Nugroho (tengah) didampingi angota SWI DIY memberi keterangan kepada wartawan pada 'Bincang Siang bersama Media Massa’ di Yogyakarta, Rabu (22/3/2017). (foto : heri purwata) YOGYAKARTA -- Satuan Tugas (Satgas)...

Dr Zakir Naik akan Memberi Kuliah di UMY

Dr Zakir Naik akan Memberi Kuliah di UMY

21 Maret 2017

Nasrullah (tengah), ketua panitia lokal kunjungan Dr.Zakir Naik di UMY, memberi keterangan kepada wartawan di Kampus UMY, Senin (20/3/2017). (foto : Tri Dewi Kartini) BANTUL -- Da’i ahli perbandingan agama...

“Gendruwo Pasar Anyar’ Upaya Sadarkan Ancaman Kapitalis

“Gendruwo Pasar Anyar’ Upaya Sadarkan Ancaman Kapitalis

13 September 2016

Khocil Birawa (kiri) dan Indra Tranggono ketika memberika keterangan pers di Yogyakarta, Selasa (13/9/2016). (foto : heri purwata) YOGYAKARTA -- Khocil Birawa, seniman dan wartawan akan mementaskan monolog “Gendruwo Pasar...

ProDem Gelar Kemah Kedaulatan di Sleman

ProDem Gelar Kemah Kedaulatan di Sleman

12 Agustus 2015

SLEMAN -- Jaringan aktivis Pro Demokrasi (ProDem) akan menggelar Kemah Kedaulatan di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kemah Kedaulatan akan diikuti 1.500 aktivis yang berasal...

Pameran Lukisan The Creative Powers of Art

Pameran seni rupa karya guru-guru dan seniman "The Creative Powers of Art" digelar di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis-Selasa  (28/4 - 3/5/2016). 

 

ozio_gallery_nano
Ozio Gallery made with ❤ by joomla.it